Text
Pingkan Melipat Jarak
Sarwono yang sakit digambarkan sebagai Sarwono yang kehilangan “pancer.” Pancer adalah saudara kembar seseorang dalam tradisi Jawa. Kadang papat lima pancer, empat saudara dan pancer yang kelima. Keempat saudara itu ialah kawah, ari-ari, darah dan pusar. Pancer adalah diri kita sendiri. Kehilangan pancer berarti kehilangan kesadaran akan diri. Makanya upaya penyembuhan Sarwono tidak hanya dilakukan melalui pengobatan modern, tetapi juga dengan cara Jawa. Ibu Hadi – ibunya Sarwono menempatkan inthuk-inthuk di depan pintu supaya pancer yang sedang melanglang Buana bisa pulang.
Pingkan yang datang dari Jakarta diminta untuk menuju rumah Ibu Hadi. Tidak ke rumah sakit dimana Sarwono berbaring. Pingkan diarahkan untuk masuk ke kamar Sarwono dan menerima berkas-berkas tulisan tangan Sarwono yang harus disimpannya. Sementara itu Katsuo, seorang Jepang yang menjadi pengajar di Indonesia, berupaya untuk ikut membantu penyembuhan Sarwono. Katsuo adalah teman Sarwono dan Pingkan. Katsuo sangat tertarik dengan budaya Jawa dan jatuh cinta kepada Pingkan.
Hubungan Katsuo-Pingkan-Sarwono sangatlah unik. Kedua lelaki ini sama-sama mencintai Pingkan. Namun cinta Katsuo seperti terbentur waktu. Kalah dulu. Maka Katsuo mengarahkan cintanya kepada Pingkan dengan cara mengupayakan kesembuhan Sarwono. Sarwono dan Pingkan harus Bersatu, supaya cinta Katsuo kepada Pingkan bisa terwujud. Apalagi Katsuo sudah setuju dengan perjodohan yang diatur oleh ibunya dengan Noriko, gadis dari tempat asalnya.
Katsuo harus meminta pertolongan ibunya untuk mengembalikan mabui – pancer Sarwono yang hilang. Ibu Katsuo adalah seorang Yuta. Seorang perempuan yang terpanggil untuk menjadi tokoh spiritual.
Sepanjang waktu penyembuhan Sarwono (dan Pingkan) terjadilah lompatan waktu. Pingkan menjadi Galuh dan Sarwono menjadi Ino (Kertapati), sepasang kekasih dalam cerita Panji. Namun anehnya saat Sarwono mengira bahwa Pingkan adalah Galuh, Pingkan merasa dirinya adalah Pingkan. Sedangkan saat Pingkan merasa dirinya Galuh dan melihat Sarwono sebagai Ino, Sarwono malah merasa dia adalah Sarwono. Demikian pun saat Katsuo memanggil Pingkan sebagai Noriko, Pingkan merasa dirinya adalah Pingkan. Disinilah waktu terlipat.
Tidak tersedia versi lain