Text
Pulang
Dimas dan dua kawan dekatnya dituduh terlibat dalam G30S dan menjadi eksil politik di Paris. Mereka tidak bisa pulang karena paspor Indonesia yang dicabut akibat pemerintahan Orde Baru.
Sementara Hananto Prawiro, yang juga berkawan dengan mereka terpaksa ditahan untuk kemudian dihukum mati di Indonesia sehingga harus meninggalkan istri dan ketiga anaknya.
Dimas diceritakan sempat terlibat percintaan dengan istri Hananto, yakni Surti Anandari sewaktu masa perkuliahan.
Melihat keadaan Surti bersama ketiga anaknya yang hidup tersiksa di Indonesia, membuat Dimas tetap berkorespondensi dengan Surti dan anak sulungnya melalui surat-surat yang dikirim ke Paris.
Membaca surat-surat mereka juga sungguh menyayat hatiku. Apalagi ketika Kenanga, anak sulung Surti yang diminta membersihkan bekas darah orang-orang yang disiksa di sana.
Setelah dalam kurun waktu tiga tahun berpindah-pindah dan sempat mengungsi di Pekking, Dimas beserta dua kawannya yang beranama Nugroho dan Risjaf kemudian menutuskan untuk menetap di Paris.
Suatu hari, Dimas menyaksikan demonstrasi mahasiswa pada peristiwa Prancis Mei 1968 di Universitas Sorbonne. Ia kemudian jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Vivienne Devereaux yang ikut berdemonstrasi.
Mereka kemudian memutuskan untuk menikah dan melahirkan anak perempuan bernama Lintang Utara.
Melihat bakat Dimas yang pandai memasak–bersama Nugroho dan Risjaf, mereka kemudian berinisiatif membangun restoran Indonesia yang diberi nama “Tanah Air”.
Tidak tersedia versi lain