Text
Lasti Tsaniyah (Engkau Tiada Duanya)
“..Mungkin, inilah salah satu alasan bapak memaksaku masuk ke pesantren ini. Sebagai anak bapak dan ibu yang sangat taat terhadap agama dan sering menjadi rujukan banyak orang, memang memalukan kalau aku tidak memiliki pengetahuan agama yang memadai, apalagi membaca Al-Qur’an saja belum lancar-lancar”
Potongan paragraf di atas mewakilkan mayoritas alasan seorang anak bersedia untuk disekolahkan ke sebuah pesantren. Adalah karena alasan orang tua mereka, meskipun ada beberapa yang memiliki kesadaran sendiri , tapi mungkin jumlahnya sangat sedikit. Karna kebanyakan dari mereka para remaja adalah “membebek” kepada teman-teman mereka.
Dan hal itu pun yang dialami oleh seorang remaja putri bernama Lasti Tsaniyah, yang hendak disekolahkan ke sebuah pondok pesantren oleh orang tuanya. Tapi layaknya seseorang yang dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya, Lasti pada awal perjalanan mengenal sekolah barunya, terus saja mencari-cari keburukan dari tempat yang akan menjadi sarana untuknya menimba ilmu itu, tepatnya mungkin mencari-cari alasan untuk membenarkan “ketidaksetujuannya” atas keputusan orang tuanya.
Tapi meski bagaimanapun keputusan orang tua Lasti sudah bulat, dan Lasti harus tetap siap menjalani hari-harinya di pondok tersebut. Pada awal perjalanan di sekolah barunya, ia di pertemukan dengan seorang teladan bernama Syifa Munzila, tokoh yang menjadi salah satu motifator bagi Lasti. Syifa Munzila adalah kakak kelas Lasti yang mempunyai akhlak yang baik dan juga cerdas.
Sebagaimana umumnya para remaja normal yang mempunyai tugas-tugas perkembangan, pada novel ini pun di ceritakan bahwa Lasti mulai menyukai seorang laki-laki , Azhar Mubina namanya. Namun perjalanan menggapai cinta Lasti tidaklah berjalan sesuai dengan keinginan. Karna Lasti tinggal disekitar tempat yang mempunyai aturan tertentu tentang merealisasikan “rasa cinta”, dan rasa cinta itu pun menjadi salah satu ujian untuk Lasti, ujian seberapa kuat Lasti dapat menjaga cintanya agar tidak menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Cobaan dan fitnah pun menderanya dalam perjalanan menjaga hati, menjaga diri, dan menjaga cintanya. Bahkan Lasti harus menghadapi perihnya “kehilangan” cintanya yang telah sekian lama ia perjuangkan.
Tidak tersedia versi lain