PERPUSTAKAAN SMP PESAT RISING STAR

SMP PESAT RISING STAR | Jl. Poras No. 7 Sindang Barang-Loji, Kota Bogor

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of JUGUN IANFU (JANGAN PANGGIL AKU MIYAKO)
Penanda Bagikan

Text

JUGUN IANFU (JANGAN PANGGIL AKU MIYAKO)

E ROKAJAT ASURA - Nama Orang;

Novel ini memberikan gambaran tentang bentuk kekejaman kekaisaran dan prajurit Jepang terhadap perempuan Indonesia. Novel “Jugun Ianfu, Jangan Panggil aku Miyako“ merupakan kisah kehidupan seorang remaja putri pada periode 1942-1945. Lasmirah begitu remaja putri berasal dari Suryotarunan, belum pernah mengalami menstruasi, dan tak pernah membayangkan takdirnya akan menjadi “budak seks atau Ransum Nippon”

Perempuan itu bernama Lasmirah, impian untuk jadi penyanyi, membawanya ke Borneo. Tapi siapa yang akan mengira bila impian itu seketika sirna, berganti penderitaan panjang tanpa ujung. Terjebak di Asrama Telawang sebagai seorang jugun ianfu atau budak seks, Lasmirah-Miyako nama jepagnya, tak punya banyak pilihan, ia tak lebih dari boneka hidup yang siap digilir sesuka hati tamu.

Telawang 1942, Lasmirah yang kemudian lebih dikenal dengan nama jepangnya Miyako, terkapar tak berdaya bersama impiannya menjadi seorang penyanyi menguap ke langit telawang, iantara kesadaran yang tersisa, samar merasakan darah segar mengair keluyar dari selangkangan, ia duduk sambil menangis meratapi peristiwa yang terjadi, air mata masih berjejal, berderai tak usai padahal ia mengira air mata telah habis ketika tangan kekar para lelaki biadab tadi menginjaknya.

“Ada tamu!” untuk kedua kalinya kata jongos terdengar samar, diantara darah yang tak henti megalir, perlahan Miyako membuka mata, sosok jongos yang berdiri di ambang pintu terlihat berbayang.

“Ada tamu!” ucap Jongos lagi masih terdengar samar
“ndak mau!!!” hardik, Miyako anak belasan Tahun.

Itulah pertistiwa yang pertama kali dialami oleh Lasmirah, anak belasan Tahun yang sudah menjadi yatim piatu, harus menerima keberingasan dari para tentara jepang yang ingin melampiaskan nafsunya. Sejak di tinggal oleh ibunya pada waktu Lasmirah dilahirkan, Lasmirah menjadi sangat dekat dengan Ayahnya, namun setelah Ayahnya meninggal akhirnya miyako tinggal dan dirawat oleh kakaknya Mbakyu Tari.

“Kenapa harus ke Borneo, Las?” terngiang kembali perkataan Mbakyu Tari, kakaknya, sepekan setelah menerima ajakan Zus Mer, penyanyi group sandiwara sinar rembulan. Ndoro mangku yang memperkenalkannya dengan Zus Mer setelah melihat bakat Lasmirah.

Ternyata di Borneo, Lasmirah tidak dijadikan seorang penyanyi seperti yang di janjikan. Ia dan 23 perempuan lainnya yang datang dari jawa dibawa kekota Telawang. Di sana, mereka ditempatkan di Asrama Telawang, di tempat inilah mimpi buruk Lasmirah dan perempuan-perempuan lain dimulai. begitu datang mereka langsung dipaksa untuk melayani nafsu-nafsu budak jepang.

Para jugun ianfu dipaksa setiap harinya untuk melayani tamu tanpa istirahat, mereka juga sering mendapat siksaan saat melayani para tentara jepang. Bahkan jika ada diantara mereka yang sampai Hamil, pimpinan asrama Telawang akan menggugurkan secara paksa kandungan tersebut walaupun seringkali hal ini merusak rahim mereka. Para pengurus Asrama juga tidak pernah menghargai dan berbelas kasihan kepada para jugun ianfu.

Pada tahun 1943, ada lima orang teman Lasmirah yang dikirim kembali ke jawa tanpa uang saku, kelima orang ini dipulangkan karena empat orang rahimnya sudah rusak dan satu orangnya lagi buta tidak bisa disembuhkan. selain itu, ketika satu orang teman Lasmirah yang meninggal, mayatnya dibiarkan saja membusuk dipinggir pasar seperti para mayat romusha.

Kehidupan Lasmirah yang lain bukannya selalu menderita, di dalam asrama Telawang inilah, Miyako menemukan dua orang pria yang mencintainya dengan cara berbeda. Cinta pertama diperoleh dari seorang perwira menengah angkatan darat Jepag bernama Yamada. Sosok Yamada memberikan kenyamanan dan harapan keluar dari Asrama. Yamada meberikan janji untuk memiliki keluarga dan hidup di Jepang ataupun di jawa, namun sosok ini pula yang beberapa kali memberi miyako masalah selama di Telawang.

Cinta kedua berasal dari seorang tentara PETA yang tinggal bersama kelurga pemusik Sahilatua disebelah barat Asrama Telawang, bernama Pram atau Pramudia sebelum berkenalan “resmi” yang disponsori oleh Ayumi atau Rosa, salah seorang penghuni Asrama Telawang dan pemusik Sahilatua, secara kebetulan miyako pernah melihat Pram sebelum keberangkatannya ke Borneo stasiun Pasar Turi. Pada pemuda inilah hati miyako tertambat. tak hanya menjanjikan mengeluarkan miyako dari Telawang, pada akhir kisah dia juga yang menguasahakan agar impian itu terwujud. Tak hanya janji semata.

Lasmirah mencapai babak baru hidupnya saat Jepang kalah perang pada tahun 1945, Bersama seorang mantan anggota KNIL bernama Amatia mencoba meritis hidup baru. Ia termasuk dari sedikit sekali jugun ianfu yang berhasil menemukan kehidupan baru, tetapi tetap saja pandangan masyarakat sangat sinis terhadap dirinya. Keputusan lasmirah mencari keadilan dimulai ketika Amat Mingun meninggal dunia pada tahun 1991. Kematian Amat membuat Lasmirah berani bangkit untuk bersaksi dan berjuang mencari keadilan. Lasmirah segara mencari teman-teman senasibnya untuk berjuang meminta pertanggung-jawaban dari jepang atas semua perlakuannya terhadap para jugun ianfu sampai saat ini.

Namun di akhir kisahnya, Lasmirah tidak mendapatkan kebahagiannya bersama Pram, seorang yang slalu ia sayangi. Di akhir novel ini, Pram di tembak mati oleh Yamada tepat di depan mata Lasmirah, Yamada akhirnya mengetahui kepada siapa hati Lasmirah tertambat ia marah dan cemburu terhadap Pram. Namun beberapa saat setelah Yamada menembak Pram ia juga tertembak dari belakang oleh seorang prajurit tak dikenal.


Ketersediaan
#
PERPUSTAKAAN (FIKSI) 813 Asu j
B00826
Tersedia
Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
813 Asu j
Penerbit
Depok : EDELWEISS., 2015
Deskripsi Fisik
-
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-602-8672-66-5
Klasifikasi
813 Asu j
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
-
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

PERPUSTAKAAN SMP PESAT RISING STAR
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

Perpustakaan SMP Pembangunan 1 didirikan pada tahun 1994 dan saat pertama kali Sekolah diresmikan. Lalu di tahun 2017 nama perpustakaan SMP Pembangunan 1 diganti menjadi SMP PESAT RISING STAR. Perpustakaan SMP PESAT RISING STAR merupakan lumbung ilmu, pusat referensi, rujukan dan sarana penunjang kegiatan literasi sekolah. Perpustakaan SMP PESAT RISING STAR merupakan tempat belajar, berkreasi dan berdiskusi siswa. Dengan membaca dapat membuka jendela dunia, memperdalam ilmu dan memperluas wawasan.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?